Kamis, 29 Maret 2018

Mengistirahatkan Hati

Mungkin ini yang kau mau
Kita sama-sama mengistirahatkan hati
Aku tak mau memaksa Hati mu
Dari rasa sakit yang tak kunjung pergi

Aku sedang mengistirahatkan hati dan kepalaku
tidak ingin memikirkan apapun termasuk kamu ,
Kuletakkan semua harapan dan mimpiku 
Kubuang semua rasa cemburu ku
Dan ku kemas rapi rasa rindu dalam kalbu

Aku ingin memejam bersama sepi ,
biarkan sebentar saja seperti ini
Aku butuh lega berkali-kali
Untuk meyakinkan hadir mu dalam mimpi

Kadang aku lelah dan ingin menyerah
Dibawa takdir yang mengantarmu untuk tetap hadir atau menyingkir

Aku ingin berhenti menebak masa depan apa yang mungkin terukir
Aku ingin diam seperti guguran daun yang jatuh tertiup angin semilir

Aku pernah bertahan setengah mati untuknya
Aku pernah rela menahan sakit karenanya
Aku pernah meredakan ego agar bedamai dengan cintanya

Saat aku ingin sekali menjadi yg terbaik untuknya
Saat aku ingin sekali selalu bersamanya
Saat aku ingin sekali menjadi satu-satunya pilihannya
Ternyata dia belum mau terlepas dari kenangannya
Kenangan masa lalu yang mungkin amat pahit baginya

Janganlah kau jadikan semua itu penghalang
Karena cara terbaik menyambut yang datang
Dengan tidak membandingkan dengan yang telah hilang



Minggu, 25 Maret 2018

Say Hello Rindu, Say Goodbye Cemburu

Hai cemburu...

Sana kau menjauh dari ku.
Kenapa kau selalu mengikuti ku
Padahal aku ingin menjauh dari mu
Dan mengusir hadirmu dari hidupku

Tapi kenapa.....
Kau tetap saja ada
Padahal aku sudah melempar mu ke ujung cakrawala
Ku tenggelamkan kau di dasar samudra
Ku lelehkan kau bersama panasnya magma

Kenapa....
Kau malah melebur bersama hembusan angin
Menambah hari ku semakin dingin
Menahan rindu dan kecewa di dalam batin
Membendung diri dari rasa ingin

Rasanya pengen teriak dengan kencangnya
Biar kau tau,,,, hati ku menjerit dicambuk rindu yang mendera
Biar kau tau,,,,, hatiku meronta berkata kenapa bukan aku yang ada dihati dan pikirannya

Hai perasaan,
Rasanya sudah lama tak menengokmu.
Menengok dasar hati yang sudah terkubur
Perasaan cemburu yang menggebu,
Perasaan cemburu karena masa lalu, atau
Perasaan cemburu yang datang tanpa mengetuk dulu.

Hari ini aku menyapa lagi dirimu,,,
Ya, perasaan cemburu yang telah lama terkubur dan berlalu.
Sesak di dada menjadi pertanda kalau dirimu,
Masih tinggal didalam hati ku
Serta mengalir didalam denyut nadiku

Ya perasaan cemburu datang mengetuk kalbu
Mungkin bertambah sesak karena cinta ku
Tapi, ya sudahlah, bukankah kadang diriku memang merindukan perasaan itu,
Perasaan cemburu yang menggebu di kalbuku.

Wahai cemburu....
Aku pasrah dan menyerah
Kau menang... dan aku mengaku kalah




Jumat, 16 Maret 2018

Mengejar karir, tapi cinta tak terpikir



Sekarang banyak orang yang mementingkan karir dan melupakan cinta yang perlahan terkikir. Mereka terlalu sibuk dengan ambisi masing-masing. Mereka hanya fokus terhadap apa yang ingin ia capai dalam segi kecukupan materi, tapi mereka lupa akan orang-orang disekeliling mereka seperti ayah, ibu, saudara, suami/istri, anak, kerabat, dan teman" disekeliling mereka.

Tanpa disadari, orang yang haus akan materi.... sebenarnya mereka telah kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu kasih sayang orang-orang disekeliling mereka. Kita ambil contoh saja orang yang sudah sukses merantau kebanyakan akan enggan untuk meluangkan waktu banyak utk menjenguk orangtua mereka. Jangankan pulang menjenguk, sekedar menyapa orangtua dan kerabat mereka pun enggan.

Demi bekerja, kamu sering mengorbankan waktu dan momen kebersamaanmu dengan keluarga

Kesibukan pekerjaan seharusnya tak menjadikanmu jauh dari keluarga. Deadline tugas-tugas kantor hingga kewajiban lembur tak boleh menghalangimu berinteraksi dengan mereka. Sepulang kerja atau saat akhir pekan selayaknya jadi waktu yang bisa kamu habiskan bersama; sekadar mengobrol, makan bersama, jalan-jalan, atau pergi liburan.

Menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga mungkin bukan perkara mudah. Tapi, ketika kamu berhasil memadukan kedunya, hidupmu sudah pasti jauh lebih indah. Bagaimanapun, pekerjaan dan keluarga adalah dua hal yang memang saling berkaitan. Pekerjaan mencukupkan kebutuhanmu, sedangkan keluarga yang selalu siap mendukungmu.


Padatnya rutinitas kerja membuat terlena, sampai-sampai kamu lupa memikirkan urusan hati dan cinta


Ada kalanya kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan. Menghabiskan waktu dari pagi hingga malam hari di kantor. Kamu tak lagi sempat bergaul atau sekadar berkenalan dengan teman-teman lawan jenismu. Bahkan, kamu mulai berpikir bahwa menjadi single sudah cukup menyenangkan.

Meskipun banyak kebaikan yang bisa kamu dapatkan saat melajang, kamu tak boleh terjebak dalam kondisi itu. Hidup akan lebih layak dijalani saat kamu sudah menemukan belahan hati. Seseorang yang siap menemani atau sekadar diajak berbagi. Dia yang siap merangkul pundakmu atau menggenggam tanganmu agar kamu tak merasa lebih berarti. 

Jadikanlah pasangan mu sebagai penyemangat hidup mu, karena tak selamanya punya pasangan akan menghambat mu dalam berkarya. Janganlah kau sia-siakan mereka yang ingin dekat dengan mu, tetaplah buka hati dan pikiran, tapi jangan pula kau memberi harapan jika sebenarnya tak kau inginkan.

Urusan mengumpulkan pundi-pundi materi, membuat prioritasmu tak jelas lagi. 

Kamu kehilangan kendali atas hidupmu sendiri

Sebagai seorang profesional kamu wajib punya kemampuan mengatur waktu yang mumpuni. Hal ini penting selama kamu berharap punya kehidupan yang seimbang – bisa melakukan banyak hal yang kamu inginkan. Bagaimanapun, kamu punya kehidupan di luar pekerjaan: menekuni hobi, mengembangkan kemampuan diri, hingga merencanakan bisnis pribadi.

Belajarlah untuk bijak mengatur waktu; bangun pagi, tidur cukup, datang ke kantor tepat waktu, pun saat pulang kantor. Ketika akhir pekan tiba, pintar-pintarlah memanfaatkannya untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang memang kamu sukai. Jika bisa membagi waktu dan mengatur semua kegiatanmu dengan baik, hidupmu pun akan terasa “cukup”.

Atas nama pekerjaan, hubungan baik dengan teman juga sering kamu sepelekan

Yakinlah bahwa tanpa kehadiran teman-temanmu, hidup tak akan cukup menyenangkan untuk dijalani. Teman adalah mereka yang bisa membuatmu tertawa sambil sesekali memberimu nasihat-nasihat yang mencerahkan. Bersama mereka pulalah kamu bisa berbagi rahasia dan berkeluh kesah.

Pentingnya keberadaan teman menjadikanmu layak menjaga hubungan baik dengan mereka semua. Setidaknya, selalu luangkan waktu untuk bertemu, sekadar mengobrol sambil minum kopi atau jalan-jalan bersama. Meskipun sibuk, sedikit waktumu adalah wujud rasa pedulimu pada mereka yang kamu sebut sebagai teman.

Jangan sampai waktumu habis untuk bekerja. Perkara mencari uang tak boleh membuatmu lupa jadwal olahraga

Tak hanya kesehatan mental, kamu pun wajib menjaga kesehatan fisikmu. Agar tetap bugar dan sehat, tubuh butuh dilatih dengan aktivitas fisik secara rutin. Misalnya, kamu bisa memilih berbagai jenis olahraga; lari, berenang, bersepeda, dll. Selain tubuh jadi lebih sehat dan bugar, olahraga juga bermanfaat mengurangi stres dan depresi yang bisa kamu alami akibat pekerjaan.

Kerja keras dan giat bekerja sih boleh-boleh saja, tapi jangan lupa bahagia!

Semua yang disebutkan pada poin-poin di atas jelas menegaskan bahwa pekerjaanmu bukanlah yang utama. Di luar kantor yang setiap hari kerja kamu sambangi, banyak hal-hal lain yang tak kalah penting dalam hidupmu. Hal-hal itu pulalah yang membuatmu bisa merasakan kepuasan dalam hidup. Percayalah bahwa kamu berhak atas hidup yang memang ingin kamu jalani. Yang pasti, baik-baiklah memperlakukan dirimu sendiri; utamakan kebahagiaanmu, barulah membahagiakan semua orang.

Apakah saat ini kamu terlalu fokus pada pekerjaanmu dan mengabaikan hal-hal di atas? Jika iya, mulailah menyadarinya dan perlahan mengubah kebiasaanmu mulai sekarang, ya!




KAU AKAN LELAH KARENA MENCARI, 
DAN KAU AKAN BAHAGIA KARENA MENCINTAI




Minggu, 04 Maret 2018

Antara Senja dan Fajar

Kepada Senja, Aku Belajar Tentang Sebuah Kata “Rela”

Senja adalah sebuah pembatas antara siang dan malam.
Senja adalah pemisah, agar keduanya tidak berjumpa.
Senja, sebuah penanda berakhirnya cerita.
Hadirnya seperti sebuah kata pinta agar sang mentari segera menggelamkan dirinya. 
Membuat cahaya mentari itu meredup dan membiarkan awan menjadi penguasa sang langit.

Senja adalah satu dari titah-Nya, tak ada satupun yang dapat menolaknya. 
Bahkan senja itu sendiri pun harus menerima hadirnya bagai pengundang sang pelukis dunia yang namanya tersohor dimana-mana, yang mampu melukis warna sang langit berwarna jingga. 
Hingga setiap mata yang melihatnya pasti begitu terpesona.

1. Aku pernah membenci senja, karena setelahnya hanya akan ada kegelapan dimana-mana

Senja itu menjemput malam, dimana hanya ada gelap dan sunyi.
Dan aku membenci itu.

Jika disuruh memilih fajar atau senja, tentu aku akan memilih fajar. Kau tahu alasanku memilihnya? Fajar itu menjemput sang mentari. Dengan anggunnya sang mentari terbit dan menghangatkan langit. Menyinari sisa embun di pagi, mengisyaratkan pada seluruh isi semesta untuk segera memulai cerita. Tentu, semuanya terang, bercahaya dimana-mana, bahkan sekecil apapun celah dari ranting pohon yang saling menyilang akan tetap mendapat bias cahaya.

Terbitnya sang mentari, pertanda dimulainya sebuah hari yang baru. Segala canda tawa ceria anak manusia tak akan dapat tersembunyi di sana. Indah bukan?
Dan senja? Bukannya aku benci. Aku sedikit enggan memang dengan hadirnya. Mengisyaratkan berakhirnya sebuah cerita, menyisakan sunyi. Tidak ada cahaya yang begitu terang yang mampu menyinari bumi, hanya kelip lampu kecil yang seakan tak berarti. Tetap saja kegelapan pemenangnya, hawa dingin dan rasa sepi selalu hadir menemani. Menakutkan, mengharuskan cerita apapun harus tersimpan. Entah cinta atau luka, atau bisa jadi kenangan. Dan membiarkanya menjadi penghantar tidur atau pengisi sebuah mimpi. Hingga datang lagi yang ku tunggu, fajar yang menjemput terbitnya mentari esok hari.

2. Senja menyadarkanku, bahwa terang itu tak selalu menemani

Katakanlah, aku terlalu terlena.

Kamu adalah langitku. Langit yang selalu meneduhkanku, menemaniku kapanpun dan dimanapun aku berada. Langit biru yang selalu bisa menenangkan hatiku. Begitu seterusnya kamu jika cahaya selalu menerangi, akan selalu dapat kunikmati indahmu.

Namun hari tak selamanya siang. Aku terlalu nyaman hingga aku lupa jika malam pun akan datang. Senjalah yang menjadi penanda.

Katakan saja akulah mentari itu, yang jatuh cinta padamu hai....langit. Seperti titah Tuhan, ada mentari, ada pula sang rembulan. Aku melupakan kehadirannya yang meminta senja menjemputku. 
Ya, aku harus menenggelamkan diri agar sang rembulan dapat memikat sang langit, menunjukkan cahaya indahnya, rupa cantiknya, yang hadirnya selalu diiringi kelip bintang-bintang angkasa.

Seperti itulah aku dan kamu, aku yang terlena dan terlalu nyaman akan hadirmu yang sekian lama menjadi mimpiku. Aku memang tak lagi peduli pada apa-apa yang menggodaku. Tapi aku terlalu dangkal untuk mengerti, bahwa banyak pula yang menggodamu, menginginkan hadirmu. Dan kau peduli pada itu. Saat itulah kamu memilih pergi, seperti langit yang memilih rembulan daripada sang mentari.

3. Senja mengajariku menghargai rasa sunyi

Sekali lagi, senja adalah akhir dari sebuah hari, membuat apa-apa yang telah terjadi menjadi sebuah rangkaian cerita yang terususun rapi. Seperti puzzle yang harus dirangkai agar terbentuk rupa yang dapat dikenali, kisah-kisah dihari itu yang akan menjadi kenangan dikemudian hari.

Senja yang setelahnya tentu sang malam akan tiba. Sang langit tak lagi peduli pada mentari yang telah pergi, sebab ia hanya peduli pada perjumpaannya dengan sang rembulan. Walau begitu, senja tak pernah marah, ia hanya sunyi. Menyembunyikan segala ceritanya sendiri, etah bahagia atau luka.

Ya, dari senja itu aku belajar menghargai rasa sunyi dan sepi. Tidak selalu aku akan bersama orang yang kupilih. Tidak selalu orang yang kupilih juga memilihku. Terkadang Tuhan membuat apa-apa yang begitu kita sayang pergi, bukan karena Tuhan tak peduli. Bukan,,,,,Tuhan bahkan lebih peduli melebihi diri kita sendiri.

Pun dengan saat ini, Tuhan menghadiahkan kesendirian untukku, memberikan sebuah rasa sunyi agar aku menjenguk diri sendiri. Agar aku peduli dengan diri sendiri. Aku mungkin tak sadar, aku telah terlampau mengacuhkan diri sendiri karena sibuk membahagiakan orang lain, terlalu sibuk mengkhawatirkan orang lain. Orang lain yang tidak lain adalah kamu. Dan sekarang, aku berhentikan menyibukkan diri untukmu. Aku hanya akan peduli dengan diriku sendiri.

4. Dan senja membuatku mengerti arti sebuah kata “rela”


Seperti saat menemukan, kehilangan juga tak mungkin terelakkan
tanpa sebuah kata permisi
Bagaimanakah definisi yang tepat untuk senja? Mentari yang meninggalkan sang langit ataukah sang langit yang meninggalkannya demi sang rembulan? Mungkin yang tepat adalah bulanlah yang memisahkan mereka. Atau justru tidak pula semuanya? Semua hanya menjalankan titah-Nya tanpa penolakan dan tanpa negosiasi.

Mentari bahkan selalu kembali esok hari setelah kemarin menenggelamkan diri, seperti selalu bersedia memaafkan meski berulang kali terlukai.

Senja membuatku paham makna dari kata “rela”. Bahwa apa yang ada bersama dengan kita, tak mesti selamanya. Semua ada masanya. Tanpa kita duga, tanpa kita pinta, masa itu akan tiba dan tidaklah sedikitpun kita dapat menolaknya. Siap ataupun tidak, kita tidak bisa mengaturnya seperti yang kita harapkan.

Seperti saat sebuah cinta membuat detak jantungmu berdesir, begitupun ketika kecewa menyeruak dihatimu, membuat sayatan yang begitu pedih. Saat dihadapkan pada pertemuan, bisa jadi saat itu pula kita harus bersiap untuk kehilangan. Terkadang apa yang begitu kita jaga dan kita cintai adalah takdir orang lain. Dan senja membuatku paham apa itu rela. Dia yang selalu bersedia kembali meski terusir ribuan kali, ia menerima. Ia merelakan sang langit bersenandung dengan sang rembulan

Jika kelak kamu adalah takdirku, kamu pasti akan dikembalikan padaku dengan cara yang begitu istimewa. Jika tidak, disinilah aku belajar melepaskanmu, menenggelamkan segala angan dan harapanku atas kamu.

“Aku mencarimu, dan ternyata kamu di sini. Menunggu matahari menggelincirkan dirinya? Hm?? Aneh”
“Jika kamu kesini hanya untuk mengusir hati mu yang sepi, lebih baik kamu pergi. Bukankah kamu memang suka meninggalkanku pergi?”
“Maaf, aku merindukanmu. Tapi, dalam hati aku bertanya apakah ada aku di hati mu"
Haruskah aku menjawab pertanyaan konyol itu?
Yang jelas aku tak akan mungkin bisa menjawab... dari jawabannya ada di KAMU.

Sejak kamu meninggalkanku pergi tanpa sebuah kata permisi, sejak kamu hadirkan dia dalam hatimu sebagai penggantiku yang bahkan masih menjaga ketulusan yang kuperuntukkan hanya padamu. Sejak kamu tidak lagi menganggapku berarti.

Sebab setelah kamu memilihnya, Biarlah aku menguatkan hatiku yang telah menjadi perca ini. Jangan kau buat aku sendu oleh kata rindumu. Bukankah kamu adalah langit yang meminta sang mentari pergi agar bisa bersama dengan sang rembulan? Dan lihatlah, mentari ini selalu menuruti apa maumu, demi kebahagiaanmu. Biar ku simpan rasa dan rinduku sendiri dan peruntukkanlah cinta juga rindumu itu kepada pangeran bintang hati mu. Yang demi dia kamu mengganggapku tiada.

Bahagialah dengan apa yang kamu pilih, jangan lagi usik hatiku. Aku takut semua yang sudah tertata rapi, akan kembali tercerai berai lagi. Dan biarkan aku membahagiakan diriku dengan caraku sendiri. Aku tahu kata rindumu itu bukanlah berarti kamu ingin kembali. Atau lebih tepatnya, kamu hanya merasa sepi dengan hati mu sendiri? Terserahlah, aku tidak akan membalas setiap rasa sakit yang dari belatimu itu. Aku pun tidak akan berdoa agar karma segera menimpamu. Tidak, aku hanya punya cinta yang hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu, bukan melukaimu. Karena dari dulu kebahagiaan mu adalah salah satu tujuan besar ku. Cukuplah aku serahkan segalanya pada Tuhan Yang Maha Tahu. Sebetapa banyaknya luka yang kamu beri, aku tetap berterimakasih pada Tuhan yang mengizinkan kita untuk pernah saling memiliki.

Banyak orang mengagumi senja, namun melupakan fajar.
Mereka bilang senja penuh pesona. menjadi obat pelepas lelah di penutup hari.
Namun sungguh, fajar tak kalah indahnya.
Jika senja menutup hari, maka fajar membuka hari.
Jika senja menutup lembaran cerita, maka fajar membuka lembaran cerita.
Jika senja menutup kesempatan, maka fajar membuka harapan.
Aku juga pengagum senja. tapi aku lebih menyukai fajar. Tak masalah antara keduanya kan  sama-sama ciptaan Tuhan :)

“Mengapa kamu lebih menyukai senja mungkin karena kamu belum melihat pesona dan keceriaan dari terbitnya matahari bersama embun pagi.”
Maka aku salut bagi para pengagum fajar. bagi mereka yang bermental tangguh untuk selalu bangun dipagi hari menyambut fajar. bagi mereka yang memiliki mimpi, untuk siap menyambut pagi hari. 



......I MISS U......


Kamis, 01 Maret 2018

Ingin sekali ku menyapa mu, tuk sekedar melapas rindu

Hai Rindu

Waktu itu ,,,,
aku ingin sekali menyapamu
melalui setetes air yang keluar dari mata sayuku
bagaimana kabar mu ?
sudahkah rinduku sampai kepadamu?
bahagiakah dirimu ?
beberapa ku dengar hujan begitu merdu,
kala menghampiri yang kalap karena merindu

karam tenggelam menghanyutkan rasa, kita manusia yang dikuasai semesta
Ku pikir jarak dan waktu membuat ku cukup untuk merindu
pernahkah kau ingin tau bagaimana kabar ku ?

bagaimana hati yang ku tinggali dulu, masihkah ada kenangan itu ?

dibawah lampu malam aku gerutu menanyakan apa arti rindu bagimu, dan kepada langit beserta isinya aku mengadukan ketiadaanmu.

Aku tau Tuhan punya skenario terbaik untukku tapi haruskah di dalamnya ada kita yang terpisah?
Yang ku tahu sekarang kau telah jauh tak terjangkau,
menciptakan rindu yang kian menggebu

Sedang apakah dirimu ?
masih ingatkah secangkir kopi yang rajin kau suguhkan untuk ku?
Karena aku berharap selalu
kau lah yang akan meyuguhkan kopi rindu  untuk menemani malam lelah ku

Sudah aku benamkan semua kisah kita berdua di tempat biasa kita bersua
bila rindu tak terbendung datanglah ke tempat itu dan putarlah memori kisah cinta kita.

Kau tentu tahu sudah ratusan malam kita berpisah,
sudah berapa lama semenjak kau usir aku dari sebuah kisah

Kau yg memaksa pergi,
walaupun rindu begitu menyiksa diri

Dan nanti jika sang rindu pulang, aku ingin kau masih mau bersiap menyambutku dengan senyum dan seduhan kopi rindu