Apa kabarmu, cinta?
Jika kau ingin tau.
Kabarku masih sama..
Tak ada yang baru dalam hidupku..
Masih dengan hobi lamaku, mencintaimu..
Jika kau ingin tau.
Kabarku masih sama..
Tak ada yang baru dalam hidupku..
Masih dengan hobi lamaku, mencintaimu..
Mungkin aku memang dilahirkan dengan bakat ini, tak bisa berhenti mencintai hingga terluka sendiri dan perlahan mati..
Lalu bagaimana denganmu, cinta?
Masihkah dengan hobi lamamu, mencintainya tanpa ada habisnya?
Masihkah dengan hobi lamamu, mencintainya tanpa ada habisnya?
Aku rasa kita memiliki bakat yang sama,
Mencintai hingga terluka sendiri kemudian perlahan mati..
Mencintai hingga terluka sendiri kemudian perlahan mati..
Kita, dua jiwa yang terluka karena tak bisa menepikan cinta untuk berdamai dengan logika..
Kita, dua jiwa yang memandang ke arah berbeda, kemudian terluka.
Kita, dua jiwa yang memandang ke arah berbeda, kemudian terluka.
Sementara aku mengatasnamakan cinta memandangmu,
Kau mengatasnamakan cinta memandangnya..
Kau mengatasnamakan cinta memandangnya..
Cinta..
seharusnya aku melihatnya dengan cara yang sederhana, mengenakan logika tanpa embel harap apa-apa..
Kita hanya sebuah cerita yang ku kira istimewa,
Aku mewarnainya merah jambu,
namun kau mewarnainya abu-abu.
Kau membuatku percaya bahwa kita istimewa,
Semua tlah tertulis sempurna di setiap babnya
Sebelum kau pada akhirnya
Memalingkan wajah dan berhenti disitu,
Lalu angin berbisik padaku
Bahwa cerita ini hanya cerita biasa,
Tak pernah istimewa..
Aku pergi..
Ku kira segala kerinduan akan menghilang seiring titik embun yang berjatuhan dari wajahnya dedaunan..
Aku salah..
Aku bagai secangkir kopi hangat yang berharap menemanimu menuju pagi..
Namun kau membiarkanku dingin sendiri menyambut mentari..
Ternyata asaku bukan asamu,
Dan cerita kita tak pernah seistimewa itu...
seharusnya aku melihatnya dengan cara yang sederhana, mengenakan logika tanpa embel harap apa-apa..
Kita hanya sebuah cerita yang ku kira istimewa,
Aku mewarnainya merah jambu,
namun kau mewarnainya abu-abu.
Kau membuatku percaya bahwa kita istimewa,
Semua tlah tertulis sempurna di setiap babnya
Sebelum kau pada akhirnya
Memalingkan wajah dan berhenti disitu,
Lalu angin berbisik padaku
Bahwa cerita ini hanya cerita biasa,
Tak pernah istimewa..
Aku pergi..
Ku kira segala kerinduan akan menghilang seiring titik embun yang berjatuhan dari wajahnya dedaunan..
Aku salah..
Aku bagai secangkir kopi hangat yang berharap menemanimu menuju pagi..
Namun kau membiarkanku dingin sendiri menyambut mentari..
Ternyata asaku bukan asamu,
Dan cerita kita tak pernah seistimewa itu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar