Sebelum kalian membaca postingan saya berikut ini, ada baiknya kalian membacanya sembari mendengarkan lagu Wonderland oleh komposer ternama Tonic Huljic. Aransemen simple tapi sarat dengan melodi dan harmonisasi penstimulasi semangat (aduh udah kaya Vickie aja kata-kata ku). Keren deh, coba dulu kalian search di Mbah Gogel.... atau nek gone Yu Tun dan dengarkan. Saya kadang mendengarkan ini sebagai suplemen ketika diri saya defisit terhadap yang namanya SEMANGAT.
Oke,,,,,malam ini saya akan bercerita singkat tentang bagaimana kita harus mundur untuk maju seribu langkah, cerita dimana hari ini sebenarnya saya kurang bersemangat juga sehingga saya pun turut bertanggungjawab agar saya kembali bersemangat menjalani hari.
Kalian pasti pernah liat perlombaan atletik Olimpiade, atau Asean Games, Sea Games, atau kalian ingat pas penilaian lompat tinggi dan lompat jauh waktu masih sekolah? ^_^
Kadang-kadang ketika kita dibuat geleng-geleng kepala, bagaimana caranya seorang manusia bisa meloncat dari garis start 0 dan mendaratkan kakinya di kejauhan bermeter-meter. Rasanya susah kan? Saya kalau disuruh melakukan demikian pasti tidak akan sanggup walaupun dulu pernah juga sukses melakukan lompat jauh dan memecahkan rekor tingkat kecamatan ketika dikejar oleh tetangga waktu maling mangga dan sukses meloncati siring yang lebarnya 3-4 meter lebih. Oke,,,,, itu cuma intermezzo zaman Jahilliyah dan masa anak-anak,,, bandel dikit gpp lah ya hehe,,,,(sek penting muridku ojo nganti ngerti,,, ndak murid ku melu-melu) ngreeeekkkk,,,, ngookkkkk,,, bahasa jawa ku keluar wkakakakaka
Kadang-kadang ketika kita dibuat geleng-geleng kepala, bagaimana caranya seorang manusia bisa meloncat dari garis start 0 dan mendaratkan kakinya di kejauhan bermeter-meter. Rasanya susah kan? Saya kalau disuruh melakukan demikian pasti tidak akan sanggup walaupun dulu pernah juga sukses melakukan lompat jauh dan memecahkan rekor tingkat kecamatan ketika dikejar oleh tetangga waktu maling mangga dan sukses meloncati siring yang lebarnya 3-4 meter lebih. Oke,,,,, itu cuma intermezzo zaman Jahilliyah dan masa anak-anak,,, bandel dikit gpp lah ya hehe,,,,(sek penting muridku ojo nganti ngerti,,, ndak murid ku melu-melu) ngreeeekkkk,,,, ngookkkkk,,, bahasa jawa ku keluar wkakakakaka
Nah sekarang kembali ke topik awal. Bagaimana caranya ya seseorang bisa melakukan lompatan sejauh itu, mampu melakukan hal luar biasa tersebut? Coba tebak sebelum saya memberikan jawabannya.
Ya, ternyata jawabannya sederhana dan bisa diterima dengan logika. Mereka sebelum melakukan lompatan itu ternyata berjalan jauh ke belakang arena lompatan yang diisi pasir dan berlari sekuat mungkin sehingga mendapatkan kecepatan yang diinginkan dan cukup untuk mendorong tubuh seseorang untuk dapat melompat sejauh mungkin dari garis awal 0 meter. Ya, rahasianya satu: mereka memilih MUNDUR terlebih dulu untuk mendapatkan hasil akhir berupa lompatan sejauh BERMETER-METER. Dan teman-teman bisa lihat sendiri hasilnya ketika perlombaan itu dilangsungkan.
Aplikasi dalam Hidup
Ya, mundur. Banyak orang yang berpikir bahwa hanya seorang pengecut yang memilih mundur ketimbang terus maju melangkah. Banyak persepsi aneh tentang bagaimana mengambil tindakan mundur itu adalah sesuatu yang salah besar. Padahal, mundur kadang menjadi alternatif paling tepat ketika melangkah maju bisa menyebabkan kegagalan untukmu.
Saya teringat sebuah buku yang beberapa lama ini saya baca, buku yang ditulis oleh seorang motivator muda yang sekaligus pebisnis sukses, Bung Chandra. Bung Chandra dibukunya tersebut menuliskan sesuatu yang membuat saya tertegun dan berpikir. Bung Chandra berkata seperti ini, “Ingat konsep ayunan,,, Ayunan harus bergerak mundur dulu untuk dapat selanjutnya gerakan maju dan membuat gerakan harmonis.”
Nah, terkadang kita seperti itu, tidak mau mengambil langkah mundur karena takut dianggap pecundang atau takut mengambil tindakan mundur itu adalah sesuatu yang salah. Tapi ternyata tidak sepenuhnya demikian. Mundur adalah teknik bertahan sementara untuk mengambil kesuksesan di akhirnya. Saya betul-betul merasakan ini ketika ingat di tim futsal saya dulu, pelatih kami akan betul-betul marah jika kami hanya fokus untuk mencetak gol di depan tanpa mengambil strategi mundur untuk mencari peluang yang sebenarnya bisa didapatkan dengan cara mundur ke daerah bertahan.
Mundur membuat kamu dapat memikirkan cara-cara baru yang lebih efektif ketimbang terus maju tapi dengan membawa cara-cara kuno yang tidak bisa dipergunakan lagi. Mundur juga dapat membuat kamu beristirahat sejenak dari problem kamu ketimbang terus bersitegang dengan urat syaraf hanya karena sebuah keegoisan untuk tidak mau mundur dari masalah.
Mundurlah ketika kamu merasa membutuhkan mundur, dan majulah ketika kamu sudah kembali siap untuk meluncur.
Saya pun demikian...... Pada saat saya mempunyai masalah, saya merasakan betul-betul tidak bersemangat menjalankan hidup karena ada sebuah kejadian yang membuat saya harus menahan nafas tanda KECEWA berat dan seperti kehilangan harapan. Dampaknya begitu terasa, saya jadi enggan melakukan apa-apa dan benar-benar tidak ada semangat.
Tapi akhirnya saya ingat dengan konsep ini, konsep yang dulu saya pelajari namun kadang suka juga saya lupakan. SAYA HARUS MUNDUR! Mundur untuk dapat kembali melangkah dan mendapatkan kembali semangat yang saya inginkan. Lalu bagaimana cara saya mundur? Saya mundur ke masa lalu, dimana saya mengingat hal-hal menyenangkan bersama orang yang saya cintai, mengingat betapa indahnya sebuah pencapaian ketika kamu sukses mendapatkannya, mengingat dimana di suatu hari dulu senyummu bisa mengalahkan indahnya sinar matahari. Dan ketika saya mencoba mengangkat dan memvisualisasikan memori-memori indah itu dulu, saya mendapatkan kembali semangat saya, dan saya pada akhirnya bisa menganalisis masalah apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri saya yang seharusnya saya hindari. Coba bayangkan jika saya harus terus maju tanpa mau mundur ‘berkunjung’ ke masa lalu sejenak, niscaya saat ini saya tidak akan bersemangat kembali seperti ini.
Mundurlah ketika kamu merasa kondisi membuat kamu tertekan, dan majulah ketika keadaan membuatmu tenang untuk jernih mengambil tindakan.
Tidak ada yang salah dari sebuah strategi bernama mundur. Bahkan, Islam pun dalam perang memperbolehkan kaumnya untuk mundur dam menyusun strategi ketimbang terus ngotot untuk maju tapi membawa proses bernama KALAH dan GAGAL.
Sekarang majulah kamu ke cermin, dekatkan dirimu untuk bercermin, dan tanyakan pada dirimu sendiri, “Sudahkah selama ini saya menurunkan ego untuk mundur? Sudikah saya mundur suatu saat untuk sebuah keberhasilan yang selama ini saya impikan?” Dan silakan jawab sendiri pertanyaan tersebut.
Semoga bermanfaat dan kembalikan semangat mu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar